JAKARTA – Pandemi Covid-19 sungguh menakutkan bagi semua orang. Tidak terkecuali Wakil Ketua Komisi IX DPR Nihayatul Wafiroh.

Aktivas wakil rakyat yang menggantikan bidang kesehatan itu yang kudu mengunjungi rumah sakit rujukan penderita Covid-19 terpaksa mengharuskannya menjalani swab test.

Politikus PKB itu pun melakukan swab test di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta untuk menyungguhkan apakah terpapar Covid-19 atau tidak saat beraktivitas di luar sendi.

“Ketika awal Covid rame di Indonesia. Saya termasuk orang yang depresi. Satu bagian I know so manythings but I can do nothing, bagian lain saya super was-was, karena saya tidak bisa WFH, saya tetap harus ke kantor untuk memimpin rapat (anggota ikut rapat virtual semua), “ujar Nihayatul dikutip dari akun Instagramnya @ninikwafiroh, Selasa (28/7/2020).

“Saya harus ngecek beberapa RS untuk memastikan kesiapan penanganan Covid, dan sering kali saya harus bertemu dengan orang-orang yang notabene sering berada tidak jauh dengan pasien positif, ” sambungnya.

Ninik bercerita bahwa butuh keberanian luar biasa untuk melaksanakan swab test. Dia pun menjelani test swab pada 23 Maret 2020 lalu. Menurutnya, pengalamannya melayani swab test pertama kalinya itu akan merasakan sakit yang luar biasa.

“Butuh keberanian luar biasa ketika ahirnya agenda 20 Maret saya memberanikan diri tanya-tanya soal swab ke RSCM, dan saya diberi kabar untuk antri sebab alat swab beserta reagennya terbatas. Ahirnya tanggal 23 Maret saya dikabari kalau tersedia slot untuk melakukan swab. Secara memaksa salah satu tim aku untuk menemani sekaligus ikut Swab, saya melakukan swab di Emas RSCM. Sakit luar biasa, & rasa sakit di hidung sampe beberapa hari terasa, ” rencana dia.

Ninik mengaku mesti membayar Rp2, 5 juta untuk melakukan sekali swab test. Usai menjalani tes, ia pun mengungkapkan perasaannya yang dirundung tekanan hingga depresi karena takut terpapar corona.

“Untuk swab ini saya harus membayar dua. 5jt/orang. Tau tidak bagaimana rasanya menunggu hasil swab? Deg-deg’an, stres, mellow, tensi emosi tidak karoan. Bahkan saya sudah mempersiapkan list beberapa barang yang harus aku bawa kalau ternyata positif serta harus diisolasi, plus list kurang pesan untuk tim dan tim juga, ” tulis dia.

Ia mengaku sekujur tubuhnya langsung lemas tak karuan zaman mendengar sirine ambulance saat menduduki hasil swab testnya. Saat tersebut, hasil swab test memang harus menunggu hingga 5 hari lantaran terbatasnya laboratorium pemeriksaan.

“Setiap kali ada bunyi sirine ambulan, gila langsung lemes lembaga. Ahirnya setelah menunggu 5 hari, tanggap 28 Maret saya dikabari untuk mengambil surat hasil test. Walaupun sempat diberi tahu jika positif biasanya langsung dijemput ambulan, dan kalau negatif tinggal jiplak suratnya di RS, tetep selalu saya kacau pikiran. Yes Alhamdulillah negatif, ” ungkapnya.

Loading…