JAKARTA – PT Perkebunan Nusantara VII (PTPN VII) diduga melayangkan sebuah surat perihal somasi atau teguran mengenai dikosongkannya Ponpes Agrokultural Markaz Syariah berada di Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

(Baca juga: Menilik Markaz Syariah Kekasih Rizieq di Megamendung yang Dipelihara Ketat)

Tulisan tersebut disebarkan oleh akun Twitter @Fkadrun pada Rabu (23/12/2020). Dalam cuitannya itu, ia melampirkan menjepret dari sebuah handphone yang menghadirkan surat peringatan.

Kabar duka, Innalillahi wa inna ilayhii raaji’uun. Belum pas duka Umat Islam dengan para-para Syuhada & Habibana.. turun somasi.. Markaz Syariah mega mendung diminta dikosongkan dalam waktu seminggu ini & jika tidak, akan diambil paksa PTPN yg keluarkan surat pengosongan , “kutip Okezone.

(Baca serupa: Ledakan Diduga Bom Terjadi di Kantor KAMI Menteng)

Dalam isi surat tersebut diketahui lahan seluas 30, 91 Ha yang diduduki Pesantren Alam Agrokutural Markaz Syariah sejak 2013 yang digunakan Habib Rizieq itu tidak menggunakan izin dan tanpa persetujuan PTPN VII selaku pemilik aset tanah itu.

Tindakan penggunaan tanah tersebut telah masuk tindak kejahatan dan dikenai larangan pemakaian negeri tanpa izin yang berhak & telah diatur dalam Pasal 385 KUHP, Perpu No. 51 Tahun 1960 dan pasal 480 KUHP.

Dalam surat tersebut, PTPN memberikan kesempatan terakhir buat pihak terlapor agar menyerahkan lahan dengan tenggat waktu paling laun tujuh hari. Jika tidak diserahkan PTPN mengancam untuk melaporkan permasalahan lahan ini ke pihak berwajib.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak PT Perkebunan Nusantara VII (PTPN VII) dan dari Front Pembela Islam (FPI) maupun dari pengacara Habib Rizieq.

(Salsabila Raihani)

(fmi)