JAKARTA awut-awutan Pemerintah resmi membubarkan ormas Front Pembela Islam (FPI). Pelarangan tersebut tertuang dalam putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tertanggal 23 Desember tahun 2014 yang mencabut legal standing (kedudukan hukum) organisasi umum tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Ketenteraman (Menko Polhukam) Mahfud MD mengumumkan larangan atas seluruh aktivitas FPI saat konferensi pers bersama secara 10 petinggi Kementerian dan Institusi, Rabu (30/12/2020) di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat.

Pembubaran ormas arahan Habib Rizieq Shihab itu pula mendapat sorotan media asing. Lengah satunya kantor berita Internasional dengan berbasis di London, Inggris, Reuters.

Baca juga: Polri Larang Segala Aktivitas dan Pengunaan Atribut FPI

Menurut media itu, keputusan pemerintah melarang FPI semakin menggelar peluang meningkatnya ketegangan politik dalam Indonesia.

“Larangan (kegiatan FPI) itu muncul setelah kembalinya tokoh spiritual kelompok itu, Rizieq Shihab, dari pengasingan diri pada Arab Saudi bulan lalu, ” tulis Reuters dalam berita bertajuk Indonesia’s banned Islamic group has seen its influence rising, Rabu (30/12/2020).

“(Kepulangan Rizieq) menyebabkan kekhawatiran di pemerintahan bahwa dia dapat memanfaatkan kekuatan oposisi terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi), menggunakan Islam sebagai seruan (untuk menggalang dukungan), ” ungkap jalan Barat itu.

Membaca juga: Markas FPI Dikunci Polisi, Habib Rizieq Terancam Gagal Renggut Gelar Doktor

Di dalam berita yang sama, Reuters pula menuliskan sejumlah aktivitas FPI sejak didirikan lebih dari dua dekade lalu. Di antaranya adalah, ormas itu pernah memaksa pembatalan konser Lady Gaga di Indonesia. Media tersebut bahkan menuliskan, FPI dalam gerakannya juga mengembangkan reputasi sebagai sistem yang suka menggerebek tempat-tempat hiburan seperti bar dan rumah bordil.

“Dia (FPI) selalu terlibat dalam kegiatan kemanusiaan pascaterjadinya berbagai musibah, ” tulis Reuters.