JAKARTA – Tujuh puluh utama tahun yang lalu tepatnya 3 April 1950, Usul Integral Mohammad Natsir lulus mempersatukan Indonesia yang sudah tercerai-berai menjadi beberapa Negara Bagian akibat rekayasa bagian Belanda yang ingin balik menjajah Tanah Air kita.

Belanda secara bantuan para komprador-nya semenjak lama memainkan politik devide et impera (pecah-belah dan taklukkan) di kepulauan Nusantara. Benih-benih “separatisme” yang bisa menjadi “bom waktu” bagi Indonesia, sengaja ditaburkan sebab pihak Belanda dengan cara yang halus dalam masa revolusi.

BACA JUGA: Kisah Mistis Bung Karno dan Parfum Favoritnya

Cerita mencatat pada 23 Agustus-2 November 1949 di Den Haag berlangsung perundingan antara delegasi Republik Indonesia, perwakilan BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg) beranggotakan para majikan negara federal dan utusan Kerajaan Belanda yang dikenal sebagai Konferensi Meja Melingkar (KMB).

Bertemu hasil KMB, kedaulatan diserahkan oleh Kerajaan Belanda pada Pemerintah Nasional Federal Tengah daripada Negara Indonesia Serikat (RIS). Pihak Indonesia menyambut hasil perundingan yang suntuk bisa dicapai dalam perjuangan diplomasi demi kemenangan jangka panjang yang diharapkan.

Negara Republik Nusantara dengan ibukota sementara dalam Daerah Istimewa Yogyakarta cuma satu diantara dari Negara Arah RIS. Adapun wilayah Republik Indonesia sendiri berada dalam sebagian pulau Jawa, Sumatera dan Madura.

BACA JUGA: Korban Kesusahan Kereta Taiwan Bertambah, Setidaknya 50 Tewas

Mosi Integral yang dicetuskan oleh Pemimpin Masyumi Mohammad Natsir di parlemen memiliki dukungan luas dan ditandatangani oleh seluruh fraksi di DPR-RIS pada waktu itu. Situasi dan gejolak pada berbagai daerah mulai membuktikan adanya keinginan untuk balik bersatu, namun bagaimana caranya sampai saat itu belum ditemukan.

Usul Integral benar-benar sebuah terobosan brilian yang menjadi pembuka jalan bagi pulihnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui jalan demokratis & cara yang terhormat.