JAKARTA – Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Premi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) menyebut, PT Aero Citra Kargo (ACK) mencapai keuntungan sebesar Rp38 miliar dari jasa pengiriman (ekspor) benih bening (benur) lobster. Keuntungan itu diperoleh PT ACK hanya dalam masa waktu lima bulan ataupun tepatnya sejak Juni datang November 2020.

Hal itu terungkap zaman JPU KPK Ronald Worotikan membacakan surat dakwaan untuk terdakwa Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Mahkamah Negeri Jakarta Pusat, di hari ini, Kamis (15/4/2021).

“Bahwa sejak PT ACK beroperasi pada bulan Juni 2020 sampai dengan bulan November 2020, PT ACK mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp38. 518. 300. 187 yang diterima daripada Suharjito dan perusahaan-perusahaan eksportir BBL lainnya, ” urai Jaksa KPK Ronald Worotikan.

Selanjutnya, prawacana Jaksa, Nini selaku Finance PT ACK bertempat di kantornya, Komplek Ruko Komplek Great Western Resort (GWR) Ruko P 22 Serpong, Tangerang Daksina, setiap satu bulan sekali membagikan uang hasil makna tersebut kepada pemilik saham yang seolah-olah sebagai deviden. Uang itu dibagikan di kurun waktu sampai dengan 12 November 2020.

“Membagikan uang tersebut secara berantara melalui transfer kepada pemilik saham PT ACK seolah-olah sebagai deviden, ” sebutan jaksa.

Membaca juga: Edhy Prabowo Didakwa Terima Suap Rp25, 7 Miliar dari Eksportir Lobster

Adapun, para pemilik saham PT ACK yang diduga menerima keuntungan yakni, Amri senilai Rp12 miliar. Kemudian, Achmad Bahtiar sejumlah Rp12 miliar. Serta Yudi Surya Atmaja, secara nilai total senilai Rp5 miliar.

“Bahwa uang yang menjadi arah dari Amri dan Achmad Bahtiar selaku representasi sejak terdakwa (Edhy Prabowo) dengan berasal dari PT ACK dengan total sebesar Rp24. 625. 587. 250, dikelola oleh Amiril Mukminin yang memegang buku tabungan dan kartu ATM milik Achmad Bahtiar dan Amri pada sepengetahuan terdakwa, ” membuka jaksa.

Baca juga: KPK Sita Dokumen Transaksi Perbankan Nurdin Abdullah di Bank Sulselbar

Berdasarkan surat dakwaan Edhy Prabowo, PT ACK awalnya merupakan perusahaan milik Siswadhi Pranoto Loe dengan sudah tidak aktif. Tetapi kemudian, perusahaan itu balik diaktifkan dan diduga dimanfaatkan oleh Edhy Prabowo & sekretaris pribadinya, Amiril Mukminin saat dibukanya keran ekspor benih bening (benur) lobster.

Sebelumnya, Edhy Prabowo didakwa menerima suap dengan nilai total sekira Rp25, 7 miliar dibanding para eksportir benih terang (benur) lobster. Suap tersebut diduga untuk mempercepat proses persetujuan pemberian izin penanaman lobster dan izin ekspor benih bening lobster kepada para eksportir.