WASHINGTON awut-awutan Mantan presiden Amerika Konsorsium (AS) Donald Trump telah kalah dalam pemilihan balik dari Joe Biden di November 2020. Namun, enam bulan setelah pemilihan pemimpin tersebut, dia masih terus mengklaim dirinya telah dicurangi.

Hal ini membuat para petinggi Kelompok Republik masih bertikai mulia sama lain dan pula dengan Trump terkait kesahan kemenangan Biden.

BACA JUGA: FBI Geledah Rumah dan Dewan Pengacara Mantan Presiden Donald Trump

“Pemilihan Presiden 2020 yang padan mulai hari ini dikenal sebagai the big lie (kebohongan besar)! ” kata pendahuluan Trump dalam pernyataannya yang baru sebagaimana dilansir VOA.

Komentar Trump dari rumahnya di Florida itu meminjam istilah “big lie” yang digunakan sebab lawan-lawan politiknya untuk melukiskan klaim yang disampaikannya berulangkali bahwa ia menang di pilpres November lalu.

Trump kalah tepat dalam pilpres tersebut. Dia meraih 232 kursi elektoral, dibanding Biden yang meraih 306 kursi elektoral – mekanisme yang menjadi parameter kemenangan dalam pilpres Amerika. Sementara jika dilihat dari jumlah suara terbanyak, Trump memiliki kurang dari 7 juta suara dibanding Biden.

BACA SELALU: Resmi! Trump Lolos Pemakzulan untuk Kedua Kalinya

Sesudah pernyataan Trump pada Senin (3/5/2021), salah satu pengecamnya yang paling cepat, anggota DPR Liz Cheney dari negara bagian Wyoming, mencuit “Pemilihan Presiden 2020 tidak dicurangi. Siapa saja yang mengklaim hal itu menyebarkan the big lie, menutup mata pada kaidah hukum dan meracuni bentuk demokratik kita. ”